TRAVEL

Bangkok: City Overview

7:24:00 PM

"Singkat kata, Bangkok itu nggak ada beda sama Jakarta. Hanya saja, Bangkok punya banyak pagoda, BTS & sungai yang terawat. Macetnya, orangnya dan tata kota nya nggak jauh beda sama tata kota di sepanjang Jalan Sudirman."

Awal November kemarin, saya berkesempatan untuk pergi ke Bangkok, yang niat utamanya adalah untuk workshop Body Combat di daerah Amphoe Phak Kret. Karena saya orangnya nggak mau rugi, akhirnya saya memutuskan untuk pergi lebih awal sebelum workshop Body Combat.


How to get to the city center

Singkat kata, Bangkok itu nggak ada beda sama Jakarta. Hanya saja, Bangkok punya banyak pagoda, BTS & sungai yang terawat. Macetnya, orangnya dan tata kota nya nggak jauh beda sama tata kota di sepanjang Jalan Sudirman. Setelah landing dari Bandara Internasional Don Mueang, hal pertama saya lakukan adalah beli SIM card lokal yang bisa ditemukan di pintu keluar Bandara. Waktu itu saya beli yang provider Dtac karena paket internetnya paling banyak dan dia udah 4G. 


Handphone udah aman, udah bisa pake GPS segala macem, langsung aja cari bis nomor A1 tujuan Mo Chit. Bayarnya murah kok, cuma 30 THB atau setara dengan IDR 12.000. Perjalanan dari Bandara ke Mo Chit BTS Station itu kira kira 30-45 menit. Nah, pas udah sampai Mo Chit, lanjut ke station nya terus naik BTS Sky Train Sukhumvit Line. Harga tiket paling mahalnya 44 THB (IDR 17.000). Nah, karena penginapan saya ada di daerah Pratu Nam, saya bisa berhenti di 2 stasiun: Ratchetewi atau Phaya Thai. 

Walaupun sejujurnya penginapan saya agak tanggung sih, soalnya saya nginep di daerah Phetchaburi. Jadi mau turun di Ratchetewi atau di Phaya Thai, masih tetep harus jalan kaki. Tapi nggak apa apa, banyak gedung pencakar langit yang bisa dinikmati di sepanjang Phetchaburi Rd ini. By now, kita udah sampai nih di pusat kota. Selamat datang di Bangkok!

Keliling Bangkok dengan BTS Sky Train

Sebagai pejalan solo dan kemana pun saya pergi, sebisa mungkin saya selalu naik transportasi umum daripada naik taksi. Dan untuk di Bangkok, BTS Sky Train adalah opsi paling bersahabat untuk keliling Bangkok. Dan enaknya, tiket nya bisa dibeli cash juga walaupun mereka punya Rabbit Card (kaya semacam member card gitu). Kalo buat saya, saya mending cash and carry aja. Berikut adalah beberapa alternatif tempat wisata yang bisa dijangkau dengan mudah melalui BTS Sky Train Sukhumvit Line


Chathucak Market
Pasar ini tuh kaya harus dikunjungin banget kalo lagi di Thailand. Karena selain kualitas barangnya bisa diperhitungkan, harganya juga bersahabat. Naik BTS, berhenti nya di Mo Chit. Dan pasti akan diberhentikan di Mo Chit karena Mo Chit itu stasiun pemberhentian terakhir di Sukhumvit Line. Keluar nya lewat Exit 1 atau 2, ya. Soalnya kalo keluar dari Exit 3 atau 4, jadi berlawanan arah dan harus naik ke jembatan BTS nya lagi.


Wat Pho
Ke Wat Pho ini juga gampang pake BTS. Tapi diperhatikan pas operator tiket nya bilang harga tiketnya berapa dari stasiun keberangkatan aja, sih. Untuk case saya, saya berangkat dari Ratchetewi. Dan untuk sampe ke station Saphan Taksin, saya harus transit 1x di Siam; transit dari Sukhumvit Line ke Silom Line. 

Karena station terdekat di Wat Pho itu adalah Saphan Taksin yang berada di Silom Line. Jadi harus pindah. Jaga jaga karena di Siam itu rame banget, perhatiin signage nya. Kalo mau ke Wat Pho, ambil BTS yang ke arah Bang Wa, soalnya kalo ke arah National Stadium, yang ada malah mundur lagi. Turun di Saphan Taksin, jalan dikit terus nyebrang pake kapal di Sungai Chao Phraya. Sampe deh di komplek Wat Pho, Wat Arun dan candi candi di sekitarnya.


Siam Paragon
Kalo yang ini gampang. Tapi, dari dulu saya tuh pengen mampir ke Siam Paragon. Pengen liat se gimana megah dan rame nya sih mall mewah ini-- yang ternyata emang beneran rame, dan endingnya saya nggak jadi belanja karena mall ini tuh se rame itu. Kalo di Jakarta tuh bisa diibaratkan Plaza Indonesia tapi rame nya rame banget. Nah kaya gitu.

BTS Sky Train station yang paling deket untuk ke mall ini dan mall sekitarnya adalah Siam Station. Perlu diperhatikan bahwa Siam adalah interchange station. Jadi kalo lagi jam jam pulang kantor, rame nya kacau banget. And I experienced that. Rame nya beneran rame. Tapi bagusnya, orang Thailand tau bagaimana cara mengantri yang baik dan benar. And the ugly truth is, untuk urusan antri mengantri, Thailand selangkah di depan Indonesia.

Untuk di posting selanjutnya, saya akan bahas tentang obyek wisata yang saya kunjungin di Bangkok. Jadi biar postingannya nggak kepanjangan. Hehehe. Terima kasih sudah membaca. Semoga berguna!

WORDS

Counting Down to the 11th

1:00:00 AM


As I knew that November is my month, I always wanted to visit somewhere new on my birthday. And this year, I got my passport back. I risks the money I have in my bank account and I booked a flight to Thailand. And to add some surprises, I also booked a seat to attend Body Combat workshop as well.

I have never travelled abroad alone before. I always travelled with my Dad. It's honestly a new thing for me because as I always travel solo, that would be good for me if I do have an exact itinerary. I did not. I know myself as a go-show solo traveler-- which I'd share you some of the stories later.

I also invested myself into a more proper room. Because as I have lived in Ubud since earlier this year, I always wanted to live in Jalan Sriwedari, because it is located just 2 minutes away from the city center. I don't know how long I'm gonna stay here. But fingers crossed hoping that the neighborhood here to be quiet. That's what I'm technically craving for.

A friend of mine, a big sister of mine here Kak Flora once told me. "That's okay to invest in something better. Instead of thinking how you're going to pay your bills each month, what about thinking in how to earn more each month?" Kak Flora, terima kasih.

One last thing I have learned in my birthday month is to learn in how to learn from my past mistakes. And yes, shit happened. Again, it is not worth your time talking to a person who did not know that what they did is wrong. But one sure thing is, here in Bali you pay the karma cash. And I'll let that law speaks louder.

And when I think that my November is going to be a flop, I was wrong. I have received couple of facts that relieved me a lot. One thing: if there are couple of peoples has one similar towards someone, clearly the issue is not in ours, instead in that person. So no worries. Gustra, terima kasih banyak.


Heading to the 11th month, and the final month of 2017. December, let it be a good restart.

DAILY

Kurang Tidur Gegara Perpanjang Paspor

12:46:00 AM

Saya memutuskan untuk bikin tulisan yang lebih proper disini. Karena dari posting di Facebook, banyak orang nanyain saya kenapa sampai bisa saya pulang hari Bali-Jakarta-Bali cuma perkara paspor aja? Nah, sekarang saya buatin deh jurnal khusus untuk kejadian ini.

Saya inget waktu sebelum pindah ke Ubud, seorang teman sempet ngingetin untuk perpanjang passport. Karena simply kita nggak tau kedepannya apakah kita akan traveling lebih jauh dari batas Zona Ekonomi Eksklusif nya Indonesia. Dan semenjak di Ubud, sebenernya kesempatan saya untuk berinteraksi dan bekerjasama dengan komunitas internasional disini lebih gede daripada di Jakarta. Lebih melting pot gitu. Kaya di kelas Yoga gitu kan, bisa kali itu kuping saya membedakan ada 5 bahasa yang berbeda dalam satu kelas, bahkan lebih.

OK. Jadi inti ceritanya adalah, sejujurnya udah ada 2x tawaran professional untuk ke luar negeri datang ke saya; ke Melbourne dan ke Fiji, dan endingnya saya tolak karena paspor saya mati dari tahun 2013 akhir. Keinginan untuk memproses perpanjangan paspor tuh ada. Tapi pas baca persyaratannya agak repot untuk paspor yang dikeluarkan dibawah tahun 2009 seperti paspor saya. Karena itungannya tuh jadi kaya buat paspor baru lagi. Tapi yaudah, saya anggap proses perpanjangan paspor ini adalah sebagai langkah pertama untuk investasi masa depan saya. Jadi kalau memang si suatu saat nanti kesempatan itu kembali datang, saya sudah siap terbang.



Seminggu sebelum ke Kantor Imigrasi Denpasar di daerah Renon, saya minta dikirimin semua dokumen asli dari rumah orang tua saya di Jakarta, semua dikirim ke Ubud: Kartu Keluarga, Akta Lahir, Ijazah Pendidikan, sama blanko eKTP. Kenapa blanko eKTP? Karena simply eKTP saya belum jadi jadi sampai detik ini. Diperhatikan untuk proses permohonan paspor baru atau perpanjangan dengan menggunakan blanko eKTP, bisa dipastikan dulu kalau blanko eKTP nya masih berlaku dalam jangka 6 bulan sejak tanggal pengeluaran. Kalau lewat dari itu, harus rekues blanko eKTP lagi dari kantor kelurahan tempat ngurusnya.

Saya sampai kantor Imigrasi Denpasar itu hari Senin 7.30 pagi. Saya ngerasa semua dokumen lengkap; dokumen asli dan fotokopi beserta paspor lama. Kira-kira nunggu 1 jam sampai dipanggil nomor antrian di pos pertama. Dari sini kericuhan itu dimulai. Aplikasi perpanjangan paspor saya ditolak dikarenakan oleh beberapa hal:

Nama paspor saya beda sendiri sama nama saya di dokumen lainnya. Nama ketiga di paspor saya menggunakan nama marga Ayah, sementara nama ketiga di dokumen lainnya menggunakan nama ketiga saya. Ini jadi masalah di Imigrasi Denpasar. Solusi nya adalah, saya diminta untuk mengajukan surat kuasa dari Ayah sebagai bukti kalau nama marga saya itu sama dengan nama marga Ayah saya. Dan surat kuasa tersebut akan dipergunakan untuk proses Berita Acara balik nama paspor, dan akan di proses sekitar 4-5 minggu. Disitu saya tau, hangus aja kesempatan saya untuk menghadiri workshop Body Combat di Thailand 2 minggu lagi. Tapi ya sudah, kalau belum rejeki saya ya udah, mau bilang apa.

Blanko eKTP saya nggak ada yang asli nya. Dan nggak dikirim dari Jakarta. Soalnya dari kantor Kelurahan saya di Jakarta itu dibilang, cukup serahkan fotokopi nya saja. Tapi ternyata, untuk pengurusan paspor, regulasi tersebut nggak berlaku.

Kartu Keluarga saya kan baru, dan belum ditandatangani oleh Ayah saya. Mengingat profesi Ayah saya sebagai Ship Engineer, Ayah saya banyak menghabiskan waktu di luar negeri dan menurut dia, ngasih tanda tangan di Kartu Keluarga itu bukan prioritas. Dan beruntungnya, Ayah saya lagi di Jakarta sewaktu kericuhan ini berlangsung.

Aplikasi saya ditolak jam 8 pagi. Saya langsung ambil langkah seribu aja. Jam 9 pagi saya ke Uma Seminyak, saya nenangin diri dulu sekalian siap siap titip motor sambil liat penerbangan paling cepat hari itu dari Traveloka. Karena saya tau, mau nggak mau saya harus ke Jakarta. Soalnya saya udah nggak ada waktu lagi untuk ngurusin paspor ini karena minggu depan kerjaan saya banyak yang ngantri untuk diselesaikan. 

Udah. Akhirnya jam 12 siang saya take off dari Ngurah Rai, landing jam 1 siang di Halim Perdana Kusuma. Saya sempetin mampir dulu ke Citos buat makan siang karena dari pagi itu saya baru sempet makan roti aja dari Ubud. Lanjut perjalanan, akhirnya jam 3 sore saya sampe rumah orang tua saya di daerah Tangerang Selatan. Nggak ada momen kangen kangenan, saya langsung nodong Ayah saya untuk tulis surat kuasa, minta blanko eKTP asli dan menandatangani Kartu Keluarga.

Jam 4 sore waktu Jakarta. Semua dokumen aman, saya langsung booking pesawat untuk penerbangan jam 21.20. Masih ada waktu 2 jam, masih ada kesempatan buat minta Ibu saya nemenin saya makan siang di daerah Bintaro. Udah deh abis itu, saya langsung pamit. Langsung ke Soekarno-Hatta aja sekalian. Maksudnya tuh gimana, ya. Saya kan manusia biasa, ya. Walaupun di pesawat cuma duduk doang, tapi capek juga loh. Terus yaudah, saya emang sengajain untuk sampe se cepet mungkin ke Cengkareng soalnya nggak ada yang bisa prediksi macetnya Jakarta itu se buruk apa.

Jam 21.20 take off dari Cengkareng, landing lagi di Ngurah Rai udah jam 12 malam dan baru sampai Uma Seminyak itu jam 1 pagi. Saya tau saya harus balik ke Ubud malam itu juga karena pagi nya, saya ada meeting back to back dari jam 9, 11 dan 1 siang. Dan sorenya saya harus ngajar kelas Body Combat di Denpasar. Ini alasannya kenapa saya harus bela belain pulang ke Ubud malam itu juga. Alhasil, saya sampai Ubud lagi itu udah jam 2.30 pagi, dan baru bisa tidur jam 4 pagi. Lalu harus bangun lagi jam 8 untuk 3 meeting yang saya sebutkan diatas.

Lanjut ke hari Rabu. Saya nggak mau nyerah. Saya mau coba untuk mengajukan aplikasi di Kantor Imigrasi Kelas 1 di daerah Jimbaran, Nusa Dua. Iya, 30 kilometer lebih dari Ubud. Tapi saya nggak peduli, soalnya saya anaknya batu. Kalo udah basah, basah aja sekalian. Iya jadi, kantor Imigrasi yang di Jimbaran ini tuh lebih melayani ekspat yang ingin mengajukan atau memperpanjang visa mereka. Dan mereka hanya melayani maksimum 70 orang per hari agar pelayanan bisa lebih maksimal.

Dan ternyata benar, saya antri nggak begitu lama. Juga, perkara nama saya yang berbeda di paspor dengan di dokumen pelengkap saya itu ternyata tidak menjadi masalah di Jimbaran. Nggak perlu surat kuasa Ayah saya dan nggak perlu balik nama paspor, nggak perlu nunggu sebulan. Iya! Nggak perlu. Cukup nunggu 2 hari aja dan udah, paspor nya bisa di ambil hari Jumat.

Tanpa menyampingkan kantor Imigrasi di Renon, tapi menurut saya pelayanan kantor Imigrasi di Jimbaran jauh lebih baik. Informasi jelas, sehingga untuk saya yang notabene ngurus semuanya sendiri pun nggak dipersulit karena pos pos dari foto sampai pembayaran pun semua jelas. Dan akhirnya bener, saya balik hari Jumat dan paspor nya udah jadi. Udah bisa bernafas lega, karena jika suatu hari ada tawaran untuk ke luar, jadi udah siap berangkat aja, deh. Tapi bener deh, 72 jam pertama itu lumayan melelahkan, but it finally paid off and I got my passport back.


TRAVEL

Liburan 4 Jam di Nusa Lembongan

3:15:00 PM


Jadi, karena akhir akhir ini frekuensi bepergian saya lagi lumayan banyak, ada baiknya jika saya bagikan aja cerita cerita perjalanan singkat saya. Untuk posting yang ini, saya mau posting yang santai dulu aja, ke Nusa Lembongan sama Nusa Ceningan.



Mungkin karena emang udah berdomisili di Bali, sebenernya udah banyak yang ngajak jalan ke dua pulau kecil yang berlokasi di bagian tenggara pulau Bali. Tapi entah kenapa, prioritas nya selalu berubah lagi, berubah lagi, dan ending nya nggak jadi-jadi. Sampai akhirnya, teman teman instruktur saya dari Jakarta pun mampir ke Bali, dan akhirnya saya ikutan deh nyebrang ke Nusa Lembongan. Walaupun cuma one day trip, tapi seru kok karena akhirnya setelah hampir 1 tahun, bisa kangen kangenan sama temen temen saya.



Untuk ke Nusa Lembongan ini sebenernya relatif mudah dan bisa one day trip. Waktu saya kemarin itu saya ambil speed boat dari Sanur. Harga nya 100 ribu sekali jalan. Perjalanan ditempuh dalam waktu kurang lebih 30 menit dari Sanur menuju Nusa Lembongan, begitu juga sebaliknya.


Nah, pas udah sampe Nusa Lembongan tuh secara nggak langsung kita diharuskan untuk sewa motor. Karena ya emang transportasi di sana cuma motor dan motor gede; yang menurut saya lebih kaya Bemo. Jadi kembali lagi niatnya ke Nusa Lembongan pengen ber plesir di resort atau pengen eksplor pulau nya? Nah, kalo mau eksplor pulau nya sewa deh motornya. Harga per hari nya antara 70-80 ribu rupiah. Tapi perlu diperhatikan, biasanya tuh bensin nya kosong. Nah bensin nya tuh harganya 25 ribu untuk botol besar, kira kira 2 liter lebih dikit.





Karena saya cuma waktu sekitar 4 jam sebelum speed boat berangkat kembali ke Sanur, jadi kami memutuskan untuk langsung ke Nusa Ceningan dulu. Jadi buat ke Nusa Ceningan itu tuh kaya ada jembatan kuning yang terkenal itu. Dan beberapa waktu lalu, jembatannya sempet roboh kan. Tapi pas kami berkunjung, jembatannya udah di renovasi dan udah bisa dilewatin sama motor lagi.



Nusa Ceningan tuh lebih kecil daripada Nusa Lembongan. Dan obyek wisata nya lumayan deketan satu sama lain, jadi dalam waktu 4 jam itu bisa dapet main main di Mahana Point, Blue Lagoon, Secret Point Beach sama Devil's Tear. Nah, kalo suka nonton The Amazing Race, Blue Lagoon ini tuh sempet dikunjungin pas season 28 untuk road block free fall 12 meter.

PHOTOS

Brighter & Cleaner Kuta

4:11:00 PM


It was 2 PM when I accompany a friend while waiting his flight back to Jakarta. We were at Beachwalk and he asked me to have a visit to the beach. To be honest, I don't go to Pantai Kuta that much since I kinda think that it has been too commercial. But as the sands welcomed me, Pantai Kuta has becoming way clean & bright. And I was surprised, to be honest.





GASTRONOMY

Tirta Tawar's Soft Gem: Warung Made Becik

7:00:00 PM

It was mid-day when I entered Raya Ubud, randomly trying to drive myself to a smaller road towards Jalan Tirta Tawar, hoping to find a good yet quiet restaurant, because as we know that Ubud is all about organic delicacies & healthy sweet tooth. So it’s pretty good for those who are concern about what they eat.


I personally prefer to visit a place that is not getting too commercialised by online platform like TripAdvisor, then I found this quiet restaurant accidentally when I slow down my bike, located right in the middle of Jalan Tirta Tawar. It caught my eyes because the interior feels pretty homey, structured by colored terracotta bricks.



I went in and I was greeted by a pretty young crew, and what I saw was, the crews are all female. There were only me as a guest. It was quiet, accompanied with Balinese instrumental melody playing behind, and I hope it’s not too early to judge that Bali has never fail to amaze me by how nice the locals are.

My first impression of the foods were amazing. I ordered these gado-gado (Indonesian-style salad) & coconut juice on my first visit. The taste is everything, man. It was so delicious, knowing that they are using local sugar instead of processed sugar. And yes, I am pretty concerned about their ingredients because I like observing these kind of stuffs while I am at the right place. So, yeah!


Another thing that is captivating is. They recycle their food components. For example, they are serving young coconut. But what they are doing with the outer layer of the coconut is, they collect it all and put it across the restaurant and they make it dry. Later I asked the crew, they are using the dried coconut as wood replacement to make the fire, and they’re using it to make the satay. Pretty cool, huh?


Until today, this place has been my regular place to visit every time I’m going back to the center of the island. Foods are great as they offered lots of plant-based delicacies on the menu list. As an additional, this warung (small restaurant-bahasa Indonesia) has some chillin’ Balinese instrument accompanied with Ubud mid-day delicate breeze.

REALITY TV

Meet & Greet The Amazing Race Asia 5 - Indonesia

2:59:00 PM



Yup! It's happening! Meet & Greet session with this season's Indonesian representatives at The Amazing Race Asia: Childhood Friends Treasuri & Louisa and Travel Hosts Vicky & Rachel. Located at Holy Smokes Senopati at South Jakarta, the meet & greet concept sets during lunch time and chit-chat session with the racers as we are able to know some of the off-camera scenes they didn't aired and another interesting things inside. Here's my personal coverage.




Seriously, we don't expect that the demand would be this much as what we think is we're going to make a humble meet & greet session with the racers. But turned out that there are 50 participants and they came from various cities around Indonesia. And what makes it crazier, there are 1 participant flew all the way from Kuala Lumpur in order to attend the event. Yes, it's jaw dropping.

Another surprise is the exposure from local media. We seriously didn't not see that coming as well. Because we initiated this because we love the show and to be exact, we love our racers. Knowing the support from the media is something that we feel that it’s quite crazy at the beginning because we purely do this with no official sponsors.



The signature t-shirt I designed special for our lovely racers. And yay, it fits them well!







During the chit-chat sessions, we’re able to know that what’s happening on-and-off camera. And being able to know those things gives us the experience of knowing and understanding the race system from another point of view. Another thing is, season 4’s finalist Om Hussein Sutadisastra made his way to the venue in order to drop a quick hello because Om Hussein was pretty busy with his schedule. Another sweet little thing to the participants, eh? And we thanked Om Hussein to dropping by and say some words to us. We do really appreciate it!



Last set of the event would be the autograph session, where the participants are able to ask for the racers’ autograph in a little post card. And at this point, we thanked Louisa & Treasuri and Vicky & Rachel for being very humble dealing with our countless questions and curiousities!




---

SHOUT OUT FROM THE TEAM BEHIND!

Okay, so. Jadi di section ini saya mau kasih shout-out buat tim belakang layar dan gimana kita ngerjain ini semua. First of all, kami tuh emang kenal dari forum The Amazing Race Asia yang udah di provide sama AXN dari season 1, dan itu tahun 2006. Dan dari season 1 pun kita rutin bikin nonton bareng dari jaman Mardy & Marsio. Lanjut terus sampe terakhir 2010 kita masih ngadain gathering bareng Hussein & Natasha sama Yani & Nadine juga.

Nah cuma karena acara nya sendiri ini vakum sekitar 6 tahun, jadi forumer-forumer yang lain ada yang udah di belahan dunia mana, ada yang udah nikah, ada yang udah ini, ada yang udah itu. Udah mencar gitu, lah. But seriously we maintained our friendship through The Amazing Race US Version juga kadang-kadang. And yes kita jadi kaya temenan di real life gitu. Sampe akhirnya tahun 2016 ini mereka bikin lagi season 5, dan akhirnya secara nggak langsung forumer-forumer ini pun reunited lagi satu sama lain.

Sampe akhirnya setelah episode 9 yang heart-breaking itu, nah kami-kami ini mikir kayanya bisa banget kalo bikin 1 lagi gathering untuk mengapresiasi Louisa & Treasuri karena emang menurut kami tuh, mereka emang race very well, mereka berhasil banget bikin Indonesia terlihat kuat banget di hadapan tim lain dan ya sedikit banyaknya harus banget untuk di apresiasi. Jadi ya akhirnya yaudah, kami inisiatif untuk bikin 1 gathering terakhir dan melibatkan temen-temen fans juga.


Disini ada Gaga (Airlangga) yang sebenernya kami nganggep Gaga tuh sebagai Pak Ketua gitu, ya. Karena emang Gaga yang paling sibuk buat dealing ini itu nya. Terus juga ada Sheila, Windy sama Evan yang ikut ambil bagian soal flow pendaftaran sama logistik & offline sponsorship. Lalu ada Tika yang akhirnya kami daulat untuk jadi MC & moderator meet & greet. Lalu sama ada saya, deh. Nah disini tuh saya responsible untuk graphic design support nya lah, ya. Dari segala banner, spanduk, post card, dan grafis baju yang dipake sama participant & racers-racers yang dateng, dan ending nya jadi dokumentasi, deh.

Dari saya pribadi, I thanked each one of you, guys. Nggak nyangka aja sih karena kita ber 6, meeting juga mostly online dan saya yakin banget kalo masing-masing pasti sibuk sama kerjaan sendiri, dan masih nyempetin waktu untuk ngurusin event ini. Dan makasih makasih makasih banget udah diberikan kesempatan untuk mengisi grafis dari event nya biar acara lebih ada tema nya juga. Hehehe.

Nggak lupa juga terima kasih untuk Louisa, Treasuri, Rachel, Vicky dan Om Hussein yang udah hadir dalam acara meet & greet ini. Terima kasih banyak untuk para participant yang udah dateng ke acara ini. Kami juga minta maaf apabila ada kekurangan di event ini. But at last, we hope you’re happy after all! :) Semoga ada kesempatan buat ngumpul bareng lagi, ya! :D